OJK dan SRO Jaga Keberlangsungan Aktivitas Perdagangan Bursa Efek yang Teratur, Wajar dan Efisien serta Layanan Pasar Modal kepada Seluruh Stakeholders



Jakarta, wartapalapa.com
23 Maret 2020. Otoritas Jasa Keuangan bersama Self-Regulatory Organization (SRO) pasar 
modal di Indonesia, yaitu PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Klliring Penjaminan Efek Indonesia 
(KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan terus memantau perkembangan pasar 
dan secara proaktif meninjau serangkaian kebijakan yang berlaku untuk menjaga Pasar Modal 
Indonesia tetap beroperasi seperti biasa di tengah volatilitas pasar yang dipenuhi ketidakpastian akibat
pandemi COVID-19.

OJK dan SRO juga akan terus mengupayakan keberlangsungan aktivitas perdagangan bursa efek yang 
teratur, wajar dan efisien, dan layanan pasar modal kepada seluruh stakeholders.
Untuk mencapai hal tersebut, OJK bersama SRO pasar modal telah melaksanakan Business Continuity 
Management (BCM) untuk menjamin kelangsungan operasional kegiatan di pasar modal dengan sserangkaian
aktivitas sebagai berikut:

1. Pembagian area kerja (split operation) ke beberapa lokasi kerja.
2. Pelaksanaan bekerja dari rumah (Work from Home/WfH) dengan tetap memperhatikan 
keberlangsungan layanan kepada stakeholders.
3. Membatasi kegiatan-kegiatan, seperti sosialisasi, rapat, dan kegiatan lain yang memerlukan 
interaksi dengan orang banyak dengan menggunakan fasilitas elektronik.
4. Memastikan lingkungan kerja yang sehat dan memastikan kesehatan karyawan.
Selain melaksanakan BCM, sejumlah stimulus juga telah diberikan oleh OJK dan SRO kepada 
stakeholders pasar modal untuk memberikan kepastian hukum dalam menghadapi situasi saat ini, di
antaranya adalah: 
1. Pembelian kembali (buyback) saham oleh Emiten atau Perusahaan Publik tanpa terlebih dahulu 
memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan jumlah maksimum saham 
hasil pembelian kembali (treasury stock) ditingkatkan dari 10% menjadi 20% dari modal disetor.
2. Perpanjangan batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Tahunan Tahun 2019, Laporan
Tahunan bagi Emiten dan Perusahaan Publik, termasuk Perusahaan Tercatat, yaitu selama dua
bulan dari batas waktu penyampaian.
3. Perpanjangan batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Interim I Tahun 2020 bagi 
Perusahaan Tercatat selama dua bulan dari batas waktu penyampaian laporan sebagaimana 
dimaksud dalam Peraturan BEI. Sehubungan dengan perpanjangan batas waktu tersebut, maka 
Bursa akan menyesuaikan pengenaan notasi khusus “L” pada kode Perusahaan Tercatat.
4. Perpanjangan batas waktu penyelenggaraan RUPS Tahunan oleh Emiten dan Perusahaan Publik 
selama dua bulan.
5. Penyelenggaraan RUPS oleh Perusahaan Terbuka dapat dilakukan dengan memanfaatkan 
fasilitas Electronic Proxy pada sistem E-RUPS.
6. Perubahan batasan Auto Rejection Pada Peraturan Perdagangan di Bursa Efek.
7. Pelarangan Transaksi Short Selling bagi semua Anggota Bursa mulai tanggal 2 Maret 2020 s.d. 
batas waktu yang ditetapkan OJK.
8. Pelaksanaan trading halt selama 30 menit dalam hal IHSG mengalami penurunan mencapai 5%.
9. Penyesuaian nilai haircut dan perhitungan risiko (risk charge) untuk stimulasi pasar. (MRL)

Posting Komentar

0 Komentar